Budaya & bahasa

Nama bayi Islami yang tidak harus dari bahasa Arab

Nama Islami tidak selalu berbahasa Arab. Cara memilih nama bermakna baik dari bahasa Indonesia, Jawa, atau gabungan, dan hal yang perlu ditanyakan ke ustaz.

Oleh Tim Kunamai · Diperbarui · 3 menit baca

Banyak orang tua Muslim di Indonesia ingin nama yang Islami, tetapi tidak ingin nama yang sepenuhnya berbahasa Arab. Alasannya beragam: ingin nama yang terasa dekat dengan budaya sendiri, mudah diucapkan keluarga besar, tidak terlalu umum, atau nyaman dipakai di luar negeri. Panduan ini membahas cara menimbangnya.

Catatan penting: panduan ini bukan fatwa. Pandangan tentang nama dalam Islam bisa berbeda antara ulama dan mazhab. Untuk keputusan akhir, diskusikan dengan ustaz atau guru agama yang kamu percaya.

Apa yang membuat sebuah nama terasa Islami?

Dalam tradisi Islam, perhatian utama terhadap nama umumnya ada pada maknanya. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad mengganti nama seorang perempuan bernama ’Ashiyah, yang berarti “yang bermaksiat”, menjadi Jamilah, yang berarti “cantik”.

Dari riwayat seperti ini, banyak ulama menyimpulkan prinsip umum: pilih nama yang bermakna baik, hindari nama yang bermakna buruk, dan hindari nama yang bertentangan dengan akidah. Bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang bisa membawa makna baik. Itulah sebabnya Muslim di Turki, Iran, Asia Selatan, dan Nusantara juga memakai nama dari bahasa mereka sendiri.

Tiga pendekatan yang sering dipakai

1. Nama bermakna baik dari bahasa Indonesia atau daerah

Kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah dengan makna positif bisa menjadi nama yang indah. Contohnya:

Nama Asal Arti kata
Cahaya Indonesia Sinar, terang
Mentari Indonesia Matahari
Bintang Indonesia Benda langit yang bersinar
Kasih Indonesia Cinta, sayang
Lintang Jawa Bintang
Sekar Jawa Bunga
Ayu Jawa Cantik

Nama seperti ini sering dipadukan dengan doa atau harapan yang Islami. “Cahaya”, misalnya, dapat dimaknai sebagai harapan agar anak membawa terang bagi orang di sekitarnya.

2. Gabungan nama Arab dan nama Nusantara

Pendekatan yang sangat umum di Indonesia adalah memadukan satu kata dari bahasa Arab dengan satu kata dari bahasa Indonesia atau daerah. Misalnya, nama depan dari bahasa Arab dengan nama kedua dari bahasa Jawa, atau sebaliknya. Gabungan ini memberi identitas Islami sekaligus kedekatan budaya, dan juga membantu memenuhi aturan minimal dua kata di akta kelahiran.

Saat memadukan, perhatikan bunyinya. Ucapkan nama lengkap beberapa kali dan perhatikan apakah peralihan antarkata terasa lancar.

3. Nama tokoh dalam Al-Qur’an yang dikenal lintas bahasa

Jika tujuanmu adalah nama yang Islami sekaligus mudah di luar negeri, nama para nabi dan tokoh dalam Al-Qur’an sering menjadi jalan tengah. Nama seperti Adam, Maryam, Yusuf, atau Idris memiliki padanan atau sudah dikenal dalam banyak bahasa. Ini memang nama Arab atau nama yang diserap ke bahasa Arab, tetapi tidak terasa asing di lingkungan internasional. Baca nama bayi yang nyaman di dua bahasa untuk pertimbangan lainnya.

Hal yang perlu ditanyakan ke ustaz

Beberapa kata dalam bahasa Nusantara berasal dari tradisi Hindu-Buddha atau berkaitan dengan dewa dan dewi. “Dewi”, misalnya, adalah nama yang sangat umum di Indonesia, dan banyak Muslimah memakainya. Sebagian keluarga menganggapnya kata budaya yang netral, sementara sebagian lain memilih menghindarinya karena makna asalnya. Jika kamu mempertimbangkan nama seperti ini, diskusikan dengan guru agamamu.

Pertanyaan yang bisa diajukan:

Kapan nama diberikan?

Dalam hadis riwayat Samurah bin Jundub, disebutkan bahwa pada hari ketujuh kelahiran, anak diaqiqahi, dicukur rambutnya, dan diberi nama. Banyak keluarga Muslim di Indonesia mengikuti waktu ini. Namun, akta kelahiran tetap perlu diurus paling lambat 60 hari sejak lahir. Baca kapan sebaiknya menentukan nama bayi untuk perencanaannya.

Ringkasan

Sumber dan bacaan lanjutan